Sabtu, 07 November 2020

Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker

di Indonesiadapat

memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan

ditemukannya tanaman

"KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent

Tuber) sebagai tanaman

obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai

penyakit kanker dan

berbagai penyakit berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25

sampai 30 cm ini hanya

tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari

langsung. "Tanaman

ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata

Drs.Patoppoi Pasau,

orang pertama yang menemukan tanaman itu di

Indonesia

Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995

oleh Prof Dr Chris

K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD

dari Universiti

Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang,

Malaysia. Lembaga

perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu

telah membantu ribuan

pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia

, Selandia Baru,

Singapura, dan berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh

Patoppoi di

Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi

mengidap kanker

payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari

1998. Setelah

kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi,

istri Patoppoi harus

menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh

sel, Red) untuk

menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.

"Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan

agar kami

menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi

akan mengakibatkan

kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan

hilangnya nafsu makan,"

jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi,

Patoppoi terus

berusaha mencari pengobatan alternatif sampai

akhirnya dia mendapatkan

informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia

untuk mengobati

kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke

Malaysiauntuk membeli

teh tersebut,"

ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang

berada di sebuah

toko

obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat

dan membaca buku

mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer,

Yet They Live karangan

Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996.

"Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli

buku tersebut.

Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi

membeli teh Lin Qi,

tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi

sambil tersenyum.

Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium

flagelliforme itu.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi,

pensiunan pejabat

Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan

mencari tanaman

tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di

berbagai tempat,

familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas

menghubunginya. Ternyata,

mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah

mendapatkan tanaman

tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi

menghubungi Dr. Teo di

Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang

ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi

dan menjelaskan bahwa

tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo

mengatakan agar

tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,"

lanjut Patoppoi.

Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk

kesembuhan, Patoppoi mulai

memproses tanaman tersebut sesuai dengan

langkah-langkah pada buku

tersebut

untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi

menghubungi putranya,

Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut

mencarikan tanaman

tersebut.

"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya

mulai mencari di

pinggir sungai depan rumah dan langsung saya

dapatkan tanaman tersebut

tumbuh liar di

pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya

saat itu.

Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri

Patoppoi mengalami

penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya.

Rambutnya berhenti

rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang.

"Bahkan nafsu makan

ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.

Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri

Patoppoi menjalani

pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif,

dan itu sungguh

mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ,"

kata Patoppoi. Para

dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa

yang diberikan pada

isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah

salah memberikan

dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi.

Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent

Tuber, para dokter

pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan

agar

mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya

yang tidak

mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras

tersebut. Dan

pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali

diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena

sesuatu hal, para

dokter tersebut tidak mau mendukung secara

terang-terangan penggunaan

tanaman sebagai

pengobatan alternatif," sambung Boni sambil

tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan,

berdasarkan peningkatan

keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi

kemudian menghubungi

Dr.Teo

melalui fax untukmenginformasik an bahwa tanaman

tersebut banyak terdapat

di Jawa dan

mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan

tanaman ini di Indonesia.

Kemudian Dr . Teo langsung membalas fax kami,

tetapi mereka tidak tahu

apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang

jauh," sambung Patoppoi.

Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka

diterjemahkan dalam

bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia,

Dr. Teo menganjurkan

agar kedua belah pihak bekerja sama dan

berkonsentrasi dalam usaha

nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos

mengulas habis mengenai

meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan

handal Jawa

Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci

mengenai gejala,

penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos,

ternyata sama dengan

salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker

usus yang dijelaskan

di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan

tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut.

"Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca

Menulis di Jawa Pos,"

ujar Boni.

Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar

dugaan. Dalam sehari,

bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat

ini, sudah ada sekitar

300 orang

yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di

Jl. KH. Khamdani,

Buduran Sidoarjo.

Pasien pertama yang berhasil adalah penderita

Kanker Mulut Rahim

stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan

harus dioperasi.

Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil

menunggu rumahnya laku

dijual

untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca

Jawa Pos.

Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak

lama kemudian pasien

tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak

perlu dioperasi,

karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat

tinggi, Patoppoi

berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung.

Atas bantuan Direktur

Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen

Kesehatan, Sampurno,

Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang ,

Malaysia . Di kantor Pusat

Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat

penerangan lebih lanjut

mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki

nama Indonesia

Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet

They Live" edisi

revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan

dalam buku tersebut,

serta pengalaman

isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker.

Dari pembicaraan

mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi

mendirikan

perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya .

Maka secara resmi,

Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan

lembaga sosial Cancer

Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin

bulanan Cancer Care,

yaitu di

Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp.

021-4894745,

dan di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk

pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka

telah memproduksi

ekstrak Keladi Tikus

dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan

dengan berbagai

tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis

yang diperlukan

tergantung penyakit yang diderita," kata Boni.

Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus

mengisi formulir yang

menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan

dikirimkan melalui fax

ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini,

dan akan kami fax-kan.

Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan

resep sekaligus

obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia ,

sekitar 40-60 Ringgit

Malaysia ," lanjut Boni.

"Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami

tidak menarik

keuntungan,

malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa

memberikan perpanjangan

waktu pembayaran. " tambahnya.

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang

dicoba oleh salah

satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang

mengidap kanker

ginjal. Adadua pasien yang sedang dirawat dokter

yang pernah menjabat

sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di

Surabayaini. Pasien

pertama yang

mengidap kanker rahim tidak sempat diberi

pengobatan dengan keladi tikus,

karena telah

ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah

memiliki reputasi. Setelah

menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut

mengalami kerontokan

rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah.

Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker

ginjal, dokter ini

menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi

tikus untuk membantu

proses penyembuhan kemoterapi.

Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek

yang dialami

penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan

normal. Tetapi

dokter ini menolak untuk diekspos karena

menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di

Indonesia

Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa

dia memakai pengobatan

alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai

"ter-kun" atau

dokter-dukun.

"Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan

konvensional dan modern,"

kata dokter tersebut.

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama

menerima dan memberikan

bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu

berat putaw dan

sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu

tersebut mendapat

kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker

paru-paru stadium III,

pasien tersebut mengkonsumsi pil

dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup

mengejutkan, karena ternyata

obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari

peredaran darah

penderita dan

mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut.

"Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun

dengan keladi tikus,

dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti

akan timbul

resistensi. Jadi jangan

seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung

Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung

kesakitan akibat serangan

kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar

rasa sakit sudah tidak

mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus,

beberapa saat

kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi

merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit

yang telah

disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit

berat seperti kanker

payudara, paru-paru, usus besar-rectum,

liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan,

tulang, otak, limpa,

leukemia, empedu, pankreas,

dan hepatitis.

Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang

menghabiskan milyaran

Ringgit

Malaysiaselama 5 tahun

dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.

Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih

lanjut sehubungan

dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi

perwakilan lembaga sosial

Cancer Care Indonesia " beralamat di Jl. Kayu Putih

4 no.5 Jakarta ,

telp : 021-4894745,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wakasa Gold

 CNI WAKASA GOLD Wakasa Gold memiliki kandungan ekstrak CGF (Chlorella Growth Factor) hingga 40% dengan cita rasa lemon. Manfaat : Mempercep...